Our Weapons Are Traditional Ceremonies brings together the voices of five Nausus, women long marginalised for their traditional knowledge, fighting for their homelands and standing on the front lines against environmental destruction and the seizure of communities' living spaces, while working to restore nature. From the Mollo rock mountains protected by Mama Aleta, to the sorghum gardens pioneered by Maria Loretha in Adonara; from Sangihe Island defended by Jull Takaliuang, to the forests of Mount Kerasik protected by Mardiana, and the Kendeng mountains called upon to join Gunarti's struggle through prayer and symbols connecting body and nature. This book grew out of a process of harvesting knowledge, uncovering wisdom embedded in memory, the body, and lived practices, expressed by the women themselves in their own words. Here, symbols and mantras become women's cultural weapons for nurturing life, protecting food biodiversity, sowing hope, and carrying resistance forward.
Senjata Kami adalah Upacara Adat menghadirkan suara lima Nausus, perempuan yang lama terpinggirkan karena pengetahuan tradisional mereka, berjuang demi tanah air mereka dan berdiri di garis depan melawan perusakan lingkungan dan perampasan ruang hidup masyarakat, sambil bekerja memulihkan alam. Dari gunung batu Mollo yang dilindungi Mama Aleta, hingga kebun sorgum yang dirintis Maria Loretha di Adonara; dari Pulau Sangihe yang dibela Jull Takaliuang, hingga hutan Gunung Kerasik yang dijaga Mardiana, dan pegunungan Kendeng yang memanggil untuk ikut berjuang bersama Gunarti melalui doa dan simbol yang menghubungkan tubuh dengan alam. Buku ini lahir dari proses memanen pengetahuan, menggali kebijaksanaan yang tertanam dalam ingatan, tubuh, dan laku hidup, diungkapkan oleh para perempuan itu sendiri dalam kata-kata mereka. Di sini, simbol dan mantra menjadi senjata budaya perempuan untuk merawat kehidupan, melindungi keragaman hayati pangan, menyemai harapan, dan meneruskan perlawanan.