Flying For Our Freedom is the story of Petit Muharto Kartodirdjo, who as a child in 1930s East Java was fascinated by the planes he glimpsed above his home, never dreaming he would one day fly one for his nation, and Bobby Freeberg, a former U.S. Navy pilot from Kansas who chose to fly for the Indonesian Republic after World War II as Dutch forces tightened their blockade on republican-held territories. Freeberg's plane, registered RI-002, became so vital to the revolution that foreign press labelled it a "one-man air force," carrying officials, supplies, and funds across blockaded territory to keep Indonesia's scattered republican territories connected. In October 1948, Freeberg and RI-002 disappeared over southern Sumatra with a cargo of gold, a mystery that led Muharto to write this story of friendship and courage in Indonesia's fight for freedom.
Flying For Our Freedom adalah kisah Petit Muharto Kartodirdjo, yang semasa kecil di Jawa Timur pada tahun 1930-an terpesona oleh pesawat-pesawat yang sesekali ia lihat di atas rumahnya, tanpa pernah bermimpi bahwa suatu hari ia akan menerbangkan salah satunya demi bangsanya, serta Bobby Freeberg, mantan pilot Angkatan Laut AS asal Kansas yang memilih untuk terbang bagi Republik Indonesia setelah Perang Dunia II, ketika pasukan Belanda memperketat blokade atas wilayah-wilayah kekuasaan republik. Pesawat Freeberg, yang terdaftar dengan nomor RI-002, menjadi begitu vital bagi revolusi hingga pers asing menjulukinya "angkatan udara satu orang", membawa pejabat, perbekalan, dan dana melintasi wilayah yang terblokade untuk menjaga wilayah-wilayah republik yang terpencar tetap terhubung. Pada Oktober 1948, Freeberg dan RI-002 menghilang di atas Sumatra bagian selatan bersama muatan emas, sebuah misteri yang kemudian mendorong Muharto untuk menuliskan kisah persahabatan dan keberanian dalam perjuangan Indonesia meraih kemerdekaan ini.
RELEVANT program







































































