This book traces the life of Tjokorda Gde Raka Soekawati, a Balinese prince born in Ubud in 1899, caught between the traditions of his kingdom and a world reshaped by Dutch colonial rule. It follows his rise as punggawa of Ubud and member of the Volksraad in Batavia, and his role as a cultural bridge-builder who helped found the influential Pita Maha artists' movement in 1936 alongside Rudolf Bonnet, Walter Spies, and his brother. In 1931, he carried Balinese art and dance to the Paris Colonial Exposition, introducing the island's traditions to Europe. The book builds towards his most consequential chapter: his 1946 election as President of the State of East Indonesia, a role he held until 1950. Ultimately, it's the story of how one prince helped shape the Bali the world knows today.
Buku ini menelusuri kehidupan Tjokorda Gde Raka Soekawati, seorang pangeran Bali yang lahir di Ubud pada tahun 1899, yang berada di antara tradisi kerajaannya dan dunia yang berubah akibat pemerintahan kolonial Belanda. Buku ini mengisahkan perjalanannya sebagai punggawa Ubud dan anggota Volksraad di Batavia, serta perannya sebagai penghubung budaya yang turut mendirikan gerakan seniman Pita Maha yang berpengaruh pada tahun 1936 bersama Rudolf Bonnet, Walter Spies, dan saudaranya. Pada tahun 1931, ia membawa seni dan tari Bali ke Pameran Kolonial Paris, memperkenalkan tradisi pulau ini kepada Eropa. Buku ini mengarah pada babak paling penting dalam hidupnya: terpilihnya ia sebagai Presiden Negara Indonesia Timur pada tahun 1946, jabatan yang diembannya hingga tahun 1950. Pada akhirnya, ini adalah kisah tentang bagaimana seorang pangeran turut membentuk Bali yang dikenal dunia saat ini.
RELEVANT program







































































