Candlelight on clay. Dinner is served on ceramics crafted just metres from where you're sitting. Around you, shelves of hand-thrown bowls and luminous glazes fill one of Bali's most celebrated ceramic studios. Begin with an aperitivo and a private tour of the Gaya workshop before taking your place at a beautifully set table among the ceramics themselves. More than two decades ago, Marcello Massoni and Michela Fabbri left Italy for Bali to found Gaya, where every plate, bowl and cup is still thrown, glazed and fired by hand. For one evening, their celebrated showroom becomes an intimate dining room. During dinner, they share the story of Gaya and the journey that brought them from Italy to Bali. A specially created three-course feast by the Indus culinary team celebrates the enduring relationship between food, fire and clay. Slow-roasted dishes, clay-baked flavours and elegant desserts are paired with carefully selected wines, each course served on Gaya's own handcrafted ceramics.
At the table are Raoul de Jong, award-winning Dutch writer whose adventurous writing traces ancestry, belonging and the journeys that connect us; Dominic Amerena, whose debut novel I Want Everything, winner of the 2026 Mud Literary Prize, explores authorship and the lies we tell to get the story we want; Louie Buana, Indonesian historian and cultural researcher focused on heritage, customary law and the preservation of Indonesia's rich cultural traditions; Idanna Pucci, writer and cultural historian whose lifelong relationship with Bali has inspired decades of writing on the island's art and heritage; Terence Ward, acclaimed author, filmmaker and master storyteller exploring the meeting of cultures across the Middle East and Central Asia; and Geia Laconi, author of The Tiger Man's Daughter, a beautifully observed memoir of family, identity and the enduring ties between Indonesia and Italy.
Limited seats. For one night only, Gaya's celebrated showroom becomes a dining room unlike any other.
Price includes a three-course meal, cocktails, wine and non-alcoholic refreshments.
Cahaya lilin di atas tanah liat. Santap malam disajikan di atas keramik yang dibuat hanya beberapa meter dari tempat Anda duduk. Di sekeliling Anda, rak-rak berisi mangkuk buatan tangan dan glasir yang berkilau memenuhi salah satu studio keramik paling terkenal di Bali. Mulailah dengan aperitivo dan tur pribadi ke bengkel Gaya sebelum mengambil tempat di meja yang tertata indah di antara karya-karya keramik itu sendiri. Lebih dari dua dekade lalu, Marcello Massoni dan Michela Fabbri meninggalkan Italia menuju Bali untuk mendirikan Gaya, tempat setiap piring, mangkuk, dan cangkir masih dibentuk, diglasir, dan dibakar dengan tangan. Untuk satu malam, ruang pamer mereka yang terkenal berubah menjadi ruang makan yang intim. Selama santap malam, mereka akan berbagi kisah tentang Gaya dan perjalanan yang membawa mereka dari Italia ke Bali. Sebuah jamuan tiga hidangan yang dirancang khusus oleh tim kuliner Indus merayakan hubungan abadi antara makanan, api, dan tanah liat. Hidangan yang dimasak perlahan, cita rasa yang dipanggang dalam tanah liat, dan hidangan penutup yang elegan dipadukan dengan pilihan anggur yang cermat, setiap hidangan disajikan di atas keramik buatan tangan Gaya sendiri.
Di meja bergabung Raoul de Jong, penulis Belanda peraih penghargaan yang karya-karyanya penuh petualangan menelusuri garis leluhur, rasa memiliki, dan perjalanan yang menghubungkan kita; Dominic Amerena, yang novel debutnya I Want Everything, pemenang Mud Literary Prize 2026, menjelajahi kepenulisan dan kebohongan yang kita ucapkan demi mendapatkan kisah yang kita inginkan; Louie Buana, sejarawan dan peneliti budaya Indonesia yang berfokus pada warisan budaya, hukum adat, dan pelestarian tradisi budaya Indonesia yang kaya; Idanna Pucci, penulis dan sejarawan budaya yang hubungan seumur hidupnya dengan Bali telah menginspirasi puluhan tahun karya tulis tentang seni dan warisan pulau ini; Terence Ward, penulis, pembuat film, dan pendongeng ulung yang diakui luas, menjelajahi pertemuan budaya di Timur Tengah dan Asia Tengah; serta Geia Laconi, penulis The Tiger Man's Daughter, sebuah memoar yang diamati dengan indah tentang keluarga, identitas, dan ikatan abadi antara Indonesia dan Italia.
Kursi terbatas. Hanya untuk satu malam, ruang pamer Gaya yang terkenal berubah menjadi ruang makan yang tiada duanya.
Harga sudah termasuk makan tiga hidangan, koktail, anggur, dan minuman tanpa alkohol.